Berita Sehari
Sains

Feature Sains: Termometer Galileo Membaca Suhu lewat Perubahan Kerapatan Cairan

Redaksi Opinix ·

Termometer Galileo dengan penanda 24 derajat berada di tengah kolom, 27 Mei 2009. Foto memperlihatkan satu keadaan alat, bukan hasil kalibrasi laboratorium; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Termometer Galileo dengan penanda 24 derajat berada di tengah kolom, 27 Mei 2009. Foto memperlihatkan satu keadaan alat, bukan hasil kalibrasi laboratorium; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Foto: Hustvedt, 27 Mei 2009, CC BY-SA 3.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Galileo_Thermometer_24_degrees.jpg

Feature Sains — Termometer Galileo menampilkan beberapa bola kaca berlabel suhu di dalam tabung cairan bening. Saat suhu lingkungan berubah, sebagian bola naik dan sebagian turun, sehingga pembacaan suhu tampil sebagai perubahan posisi yang kasatmata.

Prinsip dasarnya adalah gaya apung dan kerapatan relatif. Simulasi University of Colorado Boulder menjelaskan bahwa gaya apung berkaitan dengan kerapatan benda dibandingkan fluida; bola yang secara efektif lebih rapat cenderung turun, sedangkan yang kurang rapat cenderung naik.

Setiap bola pada alat dibuat dengan kerapatan efektif yang sedikit berbeda dan diberi penanda suhu. Perubahan suhu terutama mengubah kerapatan cairan di tabung, sedangkan bola tertutup mempertahankan massa dan volumenya relatif tetap.

Ketika cairan memanas dan kerapatannya berkurang, bola-bola melewati ambang apungnya satu demi satu. Saat cairan mendingin, arahnya berbalik. Susunan bola karena itu mengubah satu besaran yang tak terlihat—kerapatan—menjadi pola posisi.

Cara membaca bergantung pada desain alat. Pada susunan dengan kelompok bola di atas dan bawah, suhu biasanya ditaksir dari label bola terendah yang masih mengapung; beberapa alat juga memiliki bola yang menggantung di tengah. Petunjuk produsen tetap menjadi acuan untuk model tertentu.

Alat ini cocok untuk memperagakan konsep, bukan menggantikan termometer acuan. Interval labelnya diskret, responsnya memerlukan waktu hingga cairan mendekati suhu ruang, dan hasil tidak boleh diperlakukan sebagai kalibrasi presisi.

Nama Galileo merujuk pada prinsip perubahan kerapatan cairan terhadap suhu, bukan klaim sederhana bahwa Galileo membuat bentuk komersial modern itu. Nilai pendidikannya justru terletak pada pertautan suhu, kerapatan, gravitasi, dan gaya apung.

Sumber: PhET Interactive Simulations, University of Colorado Boulder, simulasi Buoyancy, https://phet.colorado.edu/en/simulations/buoyancy ; Peter Loyson, “Galilean Thermometer Not So Galilean”, Journal of Chemical Education 89(3), 2012, https://doi.org/10.1021/ed200793g ; halaman foto Wikimedia Commons tercantum pada kredit.

Catatan editorial: Artikel ini merupakan feature pengetahuan evergreen, bukan panduan kalibrasi atau pengukuran resmi. Penjelasan dibatasi pada prinsip fisika umum; foto hanya diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.

Baca juga