Berita Sehari
Sains

Bagaimana Laba-laba Terbang Tanpa Sayap: Benang Halus, Angin, dan Medan Listrik

Redaksi Opinix ·

Rangkaian foto negatif Xysticus saat menilai angin dan mengambil posisi tiptoe, Gambar 3 Cho dkk., terbit 14 Juni 2018; tanggal pemotretan spesifik tidak dicantumkan. Bukan foto percobaan Bristol.
Rangkaian foto negatif Xysticus saat menilai angin dan mengambil posisi tiptoe, Gambar 3 Cho dkk., terbit 14 Juni 2018; tanggal pemotretan spesifik tidak dicantumkan. Bukan foto percobaan Bristol.
Foto: Moonsung Cho, Peter Neubauer, Christoph Fahrenson, dan Ingo Rechenberg / PLOS Biology / CC BY 4.0

Tulisan latar / evergreen nonaktual — bukan berita terbaru.

Laba-laba tidak membutuhkan sayap untuk berpindah melalui udara. Dalam perilaku yang disebut ballooning, hewan ini melepaskan benang sutra dan dapat terangkat. Dua penelitian pada 2018 membantu menjelaskan peran aliran udara serta medan listrik, melalui percobaan yang berbeda.

Penelitian Moonsung Cho dan rekan-rekannya, terbit di PLOS Biology pada 14 Juni 2018, mengamati laba-laba Xysticus di lapangan dan terowongan angin. Sebelum melepaskan benang, hewan tersebut mengangkat kaki depan untuk menilai kondisi udara.

Setelah menilai kondisi sesuai, laba-laba mengangkat bagian belakang tubuh dalam posisi tiptoe. Peneliti melaporkan bahwa individu berbobot 16–20 miligram menghasilkan sekitar 50–60 serat sangat halus; masing-masing berdiameter 121–323 nanometer, bukan seutas tali besar.

Dalam pengujian itu, aliran udara ke atas sekitar 0,1–0,5 meter per detik dapat menopang laba-laba. Hasilnya menjelaskan bagaimana kumpulan serat halus berinteraksi dengan udara; angka tersebut bukan batas kecepatan terbang yang berlaku untuk semua jenis laba-laba.

Penjelasan lain datang dari riset Erica Morley dan Daniel Robert yang diumumkan Universitas Bristol pada 5 Juli 2018. Laba-laba kelompok Linyphiid dipaparkan pada medan listrik laboratorium setara kondisi atmosfer; pengaktifan dan penghentian medan membuatnya bergerak naik dan turun meskipun tanpa aliran udara.

Temuan Bristol menunjukkan bahwa listrik dapat memicu ballooning dan memberi gaya angkat dalam percobaan tersebut. Ini melengkapi, bukan menghapus, peran angin: kedua penelitian memakai kelompok laba-laba dan rancangan uji berbeda, sehingga hasilnya tidak boleh dicampur menjadi satu percobaan.

Sumber (diperiksa 18 Oktober 2026 WIB):

Cho dkk., An observational study of ballooning in large spiders, PLOS Biology, 14 Juni 2018

https://journals.plos.org/plosbiology/article?id=10.1371/journal.pbio.2004405

Universitas Bristol, Spiders go ballooning on electric fields, 5 Juli 2018

https://www.bristol.ac.uk/news/2018/july/spiders-electric-fields-.html

Foto dokumentasi / ilustrasi: Rangkaian foto negatif Xysticus saat menilai angin dan mengambil posisi tiptoe, Gambar 3 Cho dkk., terbit 14 Juni 2018; tanggal pemotretan spesifik tidak dicantumkan. Bukan foto percobaan Bristol.

Pembuat/kredit: Moonsung Cho, Peter Neubauer, Christoph Fahrenson, dan Ingo Rechenberg / PLOS Biology.

Halaman foto:

https://doi.org/10.1371/journal.pbio.2004405.g003

Lisensi atau dasar izin: CC BY 4.0.

https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/

Perubahan: Gambar negatif berpanel merupakan bentuk asli Gambar 3 dalam publikasi; hanya diperkecil dan dikonversi menjadi JPEG, tanpa memotong panel atau menambah objek.

Catatan editorial: Tulisan latar berdasarkan penelitian dan penjelasan institusi tahun 2018, bukan penemuan baru Oktober 2026. Tidak ada pengamatan hewan atau wawancara yang dilakukan redaksi.

Baca juga