Langsung ke isi
Sabtu, 7 November 2026 · Baca sebentar. Paham lebih banyak.Redaksi · Pedoman · Koreksi
Sains, teknologi, dan pengetahuan untuk keseharian.
Antariksa

Hujan Meteor Taurid Utara Memuncak 12 November, Kenapa Bisa Muncul Bola Api?

Hujan meteor Taurid terpotret di Joshua Tree, California, 6 November 2015
Foto: Channone Arif / Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

JAKARTA – Hujan meteor sedang ramai dicari warganet pekan ini. Setelah Taurid Selatan melewati puncaknya sekitar 5-6 November, giliran hujan meteor Taurid Utara yang diperkirakan memuncak pada 12 November 2026, menurut langitselatan dan IDN Times.

Taurid Utara aktif sejak 13 Oktober hingga 2 Desember. Pada puncaknya, jumlahnya sekitar lima meteor per jam dalam kondisi langit ideal, dengan kecepatan sekitar 29 kilometer per detik, menurut langitselatan.

Jumlah itu memang sedikit. Namun Taurid punya ciri yang membuatnya ditunggu: meteornya relatif lambat dan bisa memunculkan bola api atau fireball yang terang, menurut IDN Times.

Kenapa begitu? Hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi jejak debu yang ditinggalkan komet. Taurid berasal dari debu Komet 2P/Encke yang mengitari Matahari sekitar 3,3 tahun sekali. Sebagian partikelnya berukuran lebih besar dari debu biasa sehingga cahayanya bisa lebih terang saat terbakar di atmosfer. Taurid Utara juga dikaitkan dengan asteroid 2004 TG10, yang diduga pecahan benda induk yang lebih besar, meski kaitan ini masih diteliti.

Jejak hujan meteor Leonid pada 19 November 2001
Foto arsip hujan meteor Leonid 2001. Foto: Alpsdake / Wikimedia Commons (Domain publik)

Waktu terbaik mengamati Taurid Utara dari Indonesia adalah sekitar pukul 20.58 hingga 03.38 WIB, menurut langitselatan. Titik asal meteor atau radiannya berada di rasi Taurus, di barat laut bintang terang Aldebaran.

Kondisi Bulan juga patut diperhatikan. CNN Indonesia mencatat fase Bulan baru jatuh pada 9 November pukul 14.03 WIB, tiga hari sebelum puncak Taurid Utara, sehingga cahaya Bulan tidak terlalu mengganggu.

Sepekan kemudian, giliran Leonid. Hujan meteor ini memuncak 17-18 November dengan sekitar 15 meteor per jam dan kecepatan sekitar 71 kilometer per detik, menurut CNN Indonesia. Leonid berasal dari debu Komet 55P/Tempel-Tuttle, dan radiannya di rasi Leo baru terbit sekitar pukul 00.20 WIB. “Waktu pengamatan terbaik untuk menikmati hujan meteor ini adalah setelah tengah malam,” tulis CNN Indonesia.

Untuk mengamatinya tidak perlu teleskop. Pilih lokasi yang jauh dari lampu kota, beri mata waktu beradaptasi dengan gelap, dan pandang area langit yang luas, bukan hanya titik radian.

Yang belum bisa dipastikan adalah cuaca. November sudah memasuki musim hujan di banyak daerah, dan sumber yang dibaca redaksi tidak memuat prakiraan cuaca BMKG untuk malam puncak.

Catatan redaksi: disusun dari sumber yang disebutkan; foto arsip bukan dokumentasi peristiwa terbaru.

Sumber: langitselatan, IDN Times, CNN Indonesia

Ada yang keliru di berita ini? Kirim koreksi ke redaksi. Kami memperbaiki dan mencatat setiap koreksi.