Langsung ke isi
Sabtu, 7 November 2026 · Baca sebentar. Paham lebih banyak.Redaksi · Pedoman · Koreksi
Sains, teknologi, dan pengetahuan untuk keseharian.
Teknologi

Bitcoin Kembali Tembus US$80.000, Kenapa Pemilu Sela AS Ikut Mengerek Harganya?

Koin Bitcoin di atas papan ketik laptop
Foto: Satheesh Sankaran / Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

JAKARTA – Harga Bitcoin kembali menembus US$80.000 per koin pekan ini setelah sempat tertekan pada akhir Oktober 2026. Data CoinMarketCap yang dikutip detikFinance dan Beritasatu menunjukkan Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$80.500-US$80.700 pada Kamis, 5 November 2026, naik lebih dari 6 persen dalam 24 jam.

Investor.id mencatat harga sempat mencapai US$80.708,57 atau sekitar Rp1,46 miliar per koin. Kapitalisasi pasar kripto global ikut naik 4,42 persen menjadi US$2,69 triliun.

Kenapa bisa naik? Pemicunya bukan dari dunia kripto saja. Investor.id melaporkan reli ini sejalan dengan penguatan bursa saham AS setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela, serta turunnya harga minyak mentah yang meredakan kekhawatiran inflasi.

Logikanya begini: ketika ketidakpastian politik mereda dan inflasi diperkirakan melunak, peluang kenaikan suku bunga mengecil. Kondisi itu biasanya membuat investor lebih berani masuk ke aset berisiko, termasuk saham dan kripto.

Tanda Bitcoin di Wroclaw, Polandia
Foto ilustrasi arsip. Foto: Matti Blume / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Meski begitu, Kepala Riset CoinShares James Butterfill, dikutip Investor.id, mengingatkan arah Bitcoin tetap lebih ditentukan imbal hasil riil, likuiditas dolar AS, dan aliran dana ke produk investasi Bitcoin yang diperdagangkan di bursa.

Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian juga menilai kenaikan sesaat belum menjamin tren. “Kenaikan dalam satu atau dua hari belum cukup untuk memastikan arah pasar dalam jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip detikFinance. Ia mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan karena takut tertinggal (FOMO).

Pasar kini menunggu data ketenagakerjaan AS yang bisa memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, serta kelanjutan pembahasan aturan kripto di AS seperti CLARITY Act yang bentuk akhirnya belum pasti.

Di dalam negeri, OJK mencatat jumlah investor kripto sekitar 23,48 juta pada September 2026, dengan nilai transaksi Rp30,56 triliun atau naik 31,95 persen dari bulan sebelumnya, menurut detikFinance.

Satu hal yang belum bisa dijawab: apakah level US$80.000 akan bertahan. Sumber yang dibaca redaksi tidak memuat proyeksi resmi, dan artikel ini bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset apa pun.

Catatan redaksi: disusun dari sumber yang disebutkan; foto arsip bukan dokumentasi peristiwa terbaru.

Sumber: detikFinance, Investor.id, Beritasatu

Ada yang keliru di berita ini? Kirim koreksi ke redaksi. Kami memperbaiki dan mencatat setiap koreksi.

Baca juga