Langsung ke isi
Sabtu, 7 November 2026 · Baca sebentar. Paham lebih banyak.Redaksi · Pedoman · Koreksi
Sains, teknologi, dan pengetahuan untuk keseharian.
Ekonomi

Harga Minyak Anjlok 16% dalam Sepekan, Kenapa Kabar Damai AS-Iran Bisa Bikin Turun?

Kapal tanker minyak berlayar, ilustrasi harga minyak dunia
Foto: Gordon Leggett / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

JAKARTA – Harga minyak dunia mencatat penurunan mingguan yang tajam. Minyak Brent ditutup di US$98,32 per barel pada Jumat (6/11/2026), turun lebih dari 16 persen dalam sepekan, sementara WTI ditutup di US$90,83 atau turun hampir 13 persen, menurut Investortrust dan Liputan6.

Penurunan ini terjadi tidak lama setelah harga menyentuh puncaknya. CNBC Indonesia mencatat Brent sempat berada di US$117,64 per barel pada 30 Oktober 2026.

Kenapa turun secepat itu? Pemicunya adalah harapan meredanya konflik AS-Iran. Reuters, seperti dikutip Investortrust dan Liputan6, melaporkan Iran mengirim proposal terkait program nuklirnya ke Washington melalui Qatar. CNBC Indonesia juga menyebut hasil pemilu sela AS dibaca pasar sebagai peluang de-eskalasi.

Untuk memahaminya, kenali istilah “premi perang”. Saat konflik memanas di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pengapalan minyak terpenting dunia, pedagang menaikkan harga sebagai antisipasi pasokan terganggu. Begitu muncul kabar damai, tambahan harga itu ikut menguap.

“Sepertinya ada sedikit pelonggaran premi perang yang sedang terjadi,” kata Phil Flynn dari Price Futures Group, seperti dikutip CNBC Indonesia.

Pompa angguk di ladang minyak
Pompa angguk di ladang minyak. Foto arsip sebagai ilustrasi. Foto: Arne Hückelheim / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

Namun, pasar belum benar-benar tenang. Menurut CNBC Indonesia, Iran melaporkan tiga serangan tambahan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz pada Kamis (5/11).

“Selama perbedaan mendasar dalam kesepakatan tersebut belum terselesaikan, risiko eskalasi konflik akan tetap ada,” kata Bob McNally dari Rapidan Energy Group, seperti dikutip Liputan6. Ia memperkirakan harga bisa kembali di atas US$100 jika konflik militer kembali pecah.

Ke depan, sebagian ekonom memperkirakan harga melandai. Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz, dalam laporan CNBC Indonesia, memperkirakan Brent bisa turun ke US$85 per barel tahun depan.

Yang belum diketahui: isi proposal Iran, tanggal pengirimannya, dan respons resmi Washington. Sumber yang dirujuk juga belum membahas dampaknya terhadap harga BBM nonsubsidi di Indonesia.

Catatan redaksi: disusun dari sumber yang disebutkan; foto arsip bukan dokumentasi peristiwa terbaru.

Sumber: CNBC Indonesia, Investortrust, Liputan6

Ada yang keliru di berita ini? Kirim koreksi ke redaksi. Kami memperbaiki dan mencatat setiap koreksi.

Baca juga