Langsung ke isi
Sabtu, 7 November 2026 · Baca sebentar. Paham lebih banyak.Redaksi · Pedoman · Koreksi
Sains, teknologi, dan pengetahuan untuk keseharian.
Sains

BMKG Minta Waspada Awan Cumulonimbus, Kenapa Awan Ini Paling Ditakuti?

Awan cumulonimbus menjulang di dekat Kalimantan, dipotret dari Stasiun Antariksa Internasional
Foto: NASA / Wikimedia Commons (domain publik)

JAKARTA – Kenapa BMKG selalu menyebut awan cumulonimbus dalam peringatan cuacanya? Pertanyaan itu kembali relevan setelah BMKG memetakan potensi awan cumulonimbus (Cb) di Aceh, Sumatra Utara, Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, dan sejumlah wilayah Papua, menurut Aktual.com, Sabtu (7/11/2026).

Cumulonimbus adalah awan yang tumbuh sangat cepat secara vertikal, dari ketinggian rendah hingga lapisan atas atmosfer. Di dalamnya, udara hangat dan lembap naik deras sementara udara dingin turun, sehingga awan ini menjadi “pabrik” cuaca ekstrem.

Aktual.com menulis awan tersebut dapat menimbulkan hujan lebat, petir, turbulensi, dan perubahan arah angin. Bagi penerbangan, arus udara naik dan turun di dalamnya bisa sangat kuat, karena itu pesawat biasanya memutar menghindarinya.

Awan cumulonimbus berbentuk landasan saat senja
Awan cumulonimbus dengan puncak melebar seperti landasan. Foto arsip dari Australia sebagai ilustrasi. Foto: Thennicke / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Kenapa sekarang? BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia baru masuk musim hujan pada November 2026, dengan puncak Desember 2026 hingga Februari 2027, menurut CNBC Indonesia. Pada masa peralihan seperti ini, pagi yang terik dan lembap kerap disusul hujan deras disertai petir dan angin kencang pada siang atau sore.

Untuk Jakarta, BMKG memprakirakan Sabtu ini berawan pada pagi hingga siang, lalu hujan ringan sekitar pukul 16.00 WIB di sebagian wilayah, menurut Liputan6. Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu diprakirakan tetap berawan.

Peringatan kedua menyangkut banjir rob. BMKG mencatat potensi rob di 18 wilayah pesisir pada 2-17 November 2026. “Adanya fenomena fase bulan baru pada tanggal 9 November 2026 berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum,” tulis BMKG seperti dikutip IDX Channel.

Kenapa fase bulan memengaruhi laut? Saat bulan baru, posisi Matahari, Bumi, dan Bulan hampir segaris. Tarikan gravitasi keduanya saling menguatkan sehingga pasang naik lebih tinggi dari biasanya. Bila pasang tinggi bertemu hujan deras atau penurunan muka tanah di pesisir, air laut lebih mudah masuk ke daratan.

Di Jakarta, Aktual.com menyebut potensi rob 8-15 November di kawasan Pluit, Ancol, Marunda, Cilincing, Tanjung Priok, Muara Angke, dan Penjaringan.

Jam puncak pasang untuk tiap lokasi belum dirinci dalam sumber yang dirujuk. Warga pesisir dapat memantau pembaruan BMKG dan Stasiun Meteorologi Maritim setempat.

Catatan redaksi: disusun dari sumber yang disebutkan; foto arsip bukan dokumentasi peristiwa terbaru.

Sumber: Aktual.com, IDX Channel, Liputan6, CNBC Indonesia

Ada yang keliru di berita ini? Kirim koreksi ke redaksi. Kami memperbaiki dan mencatat setiap koreksi.

Baca juga