Berita Sehari
Sains

Feature Sains: Efek Coriolis Membelokkan Gerak dalam Kerangka Bumi yang Berotasi

Redaksi Opinix ·

Diagram efek Coriolis dibuat oleh Svjo pada 21 Februari 2014. Gambar diperkecil dan dikonversi ke JPEG tanpa mengubah isi.
Diagram efek Coriolis dibuat oleh Svjo pada 21 Februari 2014. Gambar diperkecil dan dikonversi ke JPEG tanpa mengubah isi.
Foto: Svjo / Wikimedia Commons — CC BY-SA 3.0 — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Coriolis-ex.png — lisensi: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/

Feature sains ini membahas efek Coriolis melalui diagram yang dibuat pada 21 Februari 2014. Diagram menyederhanakan gerak pada kerangka berotasi; ia bukan peta cuaca, model prakiraan, atau rekaman lintasan benda tertentu.

NOAA menjelaskan bahwa rotasi Bumi membuat gerak udara tampak dibelokkan ke kanan di Belahan Bumi Utara dan ke kiri di Belahan Bumi Selatan. Pembelokan itu disebut efek Coriolis dan berperan dalam pola angin global serta arus permukaan laut.

Kata “tampak” penting karena Coriolis muncul ketika gerak dideskripsikan dari kerangka yang ikut berputar bersama Bumi. Dalam kerangka ini, jalur yang semula diharapkan lurus perlu diberi koreksi agar sesuai dengan pengamatan di permukaan.

Besar efek bergantung pada kecepatan benda dan lintang. Di dekat khatulistiwa komponen Coriolis mendekati nol, sedangkan pengaruhnya meningkat menuju kutub; jarak dan durasi gerak juga menentukan apakah pembelokan mudah diamati.

NOAA mengaitkan efek tersebut dengan arah sirkulasi badai berskala besar dan arus laut, tetapi Coriolis bukan satu-satunya penyebab. Gradien tekanan, gesekan, bentuk cekungan laut, daratan, dan kondisi atmosfer ikut membentuk pola yang nyata.

Efek ini terlalu kecil untuk menentukan arah pusaran air pada wastafel atau ember rumah tangga. Bentuk wadah, posisi saluran, sisa gerak, dan cara air dituangkan jauh lebih dominan pada skala sekecil itu.

Memahami Coriolis berarti membedakan prinsip fisika dari mitos populer. Feature ini tidak memprediksi cuaca, arah badai, atau arus pada lokasi tertentu dan tidak menggantikan data observasi serta model meteorologi.

Sumber: NOAA National Ocean Service, “The Coriolis Effect”, https://oceanservice.noaa.gov/education/tutorial_currents/04currents1.html ; NOAA NESDIS, “What Is the Coriolis Effect?”, 26 Agustus 2025, https://www.nesdis.noaa.gov/about/k-12-education/atmosphere/what-the-coriolis-effect ; NOAA JetStream, “Origin of Wind”, https://www.noaa.gov/jetstream/synoptic/origin-of-wind (diakses 15 Oktober 2026).

Catatan editorial: Feature evergreen ini disusun Redaksi Opinix dari materi pendidikan resmi NOAA dan diagram berlisensi terbuka; bukan berita terbaru, prakiraan cuaca, atau hasil percobaan redaksi.

Baca juga