Nasdaq Hilang Rp45 Ribu Triliun Sehari, Kenapa Pemilu Sela AS Bikin Saham AI Rontok?
JAKARTA – Aksi jual besar-besaran melanda bursa saham Amerika Serikat pada Kamis (5/11/2026). Menurut CNN Indonesia, sekitar US$2,5 triliun atau setara Rp45.365 triliun kapitalisasi pasar lenyap dalam sehari. Indeks Nasdaq merosot 5,52 persen dan masuk zona koreksi, karena sudah turun lebih dari 10 persen dari rekor tertingginya pada 6 Oktober.
Kenapa, ya, hasil pemilu bisa menjatuhkan saham teknologi? Kuncinya ada pada pusat data, bangunan raksasa berisi ribuan komputer yang menjadi “pabrik” kecerdasan buatan (AI). Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela, terutama di sejumlah pemilihan gubernur, membuat investor khawatir pembangunan pusat data akan diperlambat.
CNN Indonesia mencontohkan Texas, salah satu pusat investasi infrastruktur AI tempat Google, Meta, Oracle, dan OpenAI menanam modal besar. Gubernur terpilih Texas dari Demokrat, Gina Hinojosa, sebelumnya mengusulkan moratorium sementara pembangunan pusat data serta penghapusan sejumlah insentif pajaknya.
VIVA menjelaskan, pusat data butuh investasi besar untuk gedung, pasokan listrik, sistem pendingin, dan cip semikonduktor. Di sejumlah wilayah AS, proyek seperti ini mulai menghadapi persoalan kebutuhan listrik, pemakaian air, dan penolakan warga sekitar. “Perlambatan pembangunan pusat data menjadi tema utama yang akan terus bertahan,” kata Michael O’Rourke dari JonesTrading, dikutip VIVA dari Reuters.

Karena itu, saham yang paling terpukul adalah yang bisnisnya bergantung pada belanja pusat data. Saham Nvidia anjlok 9,3 persen hingga menghapus seluruh kenaikannya sepanjang tahun, indeks saham semikonduktor merosot 12,3 persen, sementara CoreWeave dan Nebius turun sekitar 10 dan 15 persen, menurut CNN Indonesia. Tekanan berlanjut ke Asia: indeks Kospi Korea Selatan anjlok hampir 9 persen saat pembukaan Jumat (6/11) sehingga perdagangan dihentikan sementara 20 menit.
Tidak semua analis panik. Ed Yardeni dari Yardeni Research justru menilai perlambatan ekspansi AI bisa sehat. “Lebih baik membiarkan gelembung AI mengempis daripada membiarkannya meledak,” katanya kepada CNN. Keith Lerner dari Truist menilai gejolak ini lebih mencerminkan reaksi spontan investor.
Bagi investor ritel di Indonesia, pelajarannya: saham tema AI sangat sensitif terhadap kebijakan, bukan hanya laporan keuangan. Yang belum diketahui adalah apakah usulan moratorium pusat data benar-benar akan diterapkan setelah para gubernur terpilih menjabat.
Catatan redaksi: disusun dari sumber yang disebutkan; foto arsip bukan dokumentasi peristiwa terbaru.
Sumber: CNN Indonesia, VIVA


