Kenapa Data Center Butuh Banyak Air? Penjelasan di Balik Krisis Air Batam

BATAM – Kenapa, ya, data center sering dikaitkan dengan krisis air? Pertanyaan itu mencuat setelah warga Kavling Sambau, Nongsa, Batam, berunjuk rasa di gerbang kawasan Nongsa Digital Park pada 5 Oktober 2026 karena sekitar tiga bulan kesulitan air bersih.
Data center berisi server yang terus bekerja. Menurut Medcom.id, fasilitas ini membutuhkan listrik untuk menjalankan server dan sistem pendingin agar perangkat tidak mengalami panas berlebih. Sistem pendingin inilah yang membuat kebutuhan airnya jadi sorotan.

Seberapa banyak? Medcom.id, mengutip BBC, menyebut penelitian di Amerika Serikat menunjukkan data center tipikal bisa memakai sekitar 300 ribu galon air per hari, setara kebutuhan seribu rumah tangga di sana. Konsumsi tiap fasilitas di Batam sendiri belum diketahui pasti.
Batam punya kerentanan khusus: pulau ini bergantung pada air hujan yang ditampung di enam waduk buatan untuk sekitar 1,3 juta penduduk. Saat kemarau panjang, debit waduk turun.
BP Batam menyebut krisis di Nongsa dipicu kemarau dan El Nino, bukan data center. Data center yang sudah beroperasi, menurut BP Batam, memakai air dari pengolahan sendiri di Kabil Industrial Estate.
Solusi yang kini diwajibkan BP Batam adalah Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), menurut Katadata yang mengutip Antara. ANTARA News menjelaskan, instalasi SWRO mengubah air laut menjadi air tawar dengan menyaring garam dan zat terlarut lainnya.
Teknologinya mahal. Kepala BP Batam Amsakar Achmad menyebut instalasi SWRO yang dibangun pengembang DayOne bernilai sekitar Rp180 miliar, menurut ANTARA News.
Yang belum diketahui adalah berapa volume air yang benar-benar dipakai setiap data center di Batam saat ini.
Kelompok lingkungan Akar Bhumi Indonesia memperkirakan Waduk Nongsa bisa mengering dalam sekitar satu bulan bila hujan tidak turun, menurut BBC yang dikutip Medcom.id. Sementara itu, Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano menyebut sistem desalinasi yang sedang dibangun berkapasitas hingga 1.200 liter per detik, menurut Mongabay.
Catatan redaksi: disusun dari sumber yang disebutkan; foto arsip bukan dokumentasi peristiwa terbaru.
Sumber: Medcom.id (mengutip BBC), Katadata (Antara), ANTARA News, Mongabay Indonesia.



