Sidik Jari Peramban: Kenapa Situs Tetap Mengenali Kita Meski Cookie Dihapus?

JAKARTA – Menghapus cookie sering dianggap cukup untuk berhenti dilacak di internet. Kenyataannya, ada teknik bernama sidik jari peramban atau browser fingerprinting yang memungkinkan situs mengenali perangkat tanpa menyimpan file apa pun di komputer atau ponsel kita.
Menurut Electronic Frontier Foundation (EFF), sidik jari peramban adalah “a list of characteristics that are unique to a single user”. Saat halaman dimuat, situs bisa membaca jenis dan versi peramban, sistem operasi, resolusi layar, zona waktu, bahasa, daftar huruf (font) yang terpasang, hingga pengaturan peramban. Satu per satu tampak sepele, tetapi gabungannya bisa membentuk pola yang nyaris unik.
Kenapa sulit dihilangkan? Cookie adalah file yang bisa kita hapus, sedangkan sidik jari dibentuk dari ciri perangkat itu sendiri. “Fingerprinting, however, relies on signals that you cannot easily wipe,” tulis Stephen Almond dari otoritas perlindungan data Inggris, ICO. Menghapus data situs tidak menolong karena perangkat langsung dikenali lagi.

Isu ini kembali ramai sejak Google, mulai 16 Februari 2025, tidak lagi melarang pengguna produk iklannya memakai fingerprinting. ICO menyebut perubahan itu “irresponsible” dan menegaskan, “Businesses do not have free rein to use fingerprinting as they please,” menurut Silicon UK dan blog ICO.
Lalu apa yang bisa dilakukan? EFF menyebut Tor Browser sebagai “the most realistic protection currently available” karena membuat semua penggunanya tampak seragam. Brave mengacak sidik jari, sementara Firefox dengan perlindungan pelacakan bisa ditambah ekstensi seperti Privacy Badger. Mematikan JavaScript lewat NoScript mengurangi data yang terbaca, tetapi bisa membuat banyak situs tidak tampil normal.
Ada jebakannya: menurut EFF, memalsukan satu ciri atau memasang terlalu banyak pengaya justru bisa membuat peramban makin mudah dikenali. Pengguna bisa menguji seberapa unik perambannya lewat situs Cover Your Tracks milik EFF.
Yang belum jelas adalah aturan di Indonesia. Sumber yang kami baca tidak memuat sikap resmi otoritas Indonesia soal praktik ini, sehingga pengguna untuk sementara bergantung pada pengaturan perangkatnya sendiri.
Catatan redaksi: disusun dari sumber yang disebutkan; foto arsip bukan dokumentasi peristiwa terbaru.
Sumber: EFF Cover Your Tracks, ICO Inggris, Silicon UK
Baca juga

Kenapa Sony Belum Umumkan Tanggal Rilis PS6 Padahal Pengembangannya Sesuai Jadwal?

Kenapa Harga Raspberry Pi 5 16GB Kini US$385, Tiga Kali Harga Awalnya?

Jeddah Tower Bakal Setinggi 1 Km, Kenapa Gedung Setinggi Itu Tidak Roboh Diterpa Angin?

