Berita Sehari
Lingkungan

BRIN dan UPTT Rintis Koridor Biodiversitas Berbasis Kebun Raya Kampus

Redaksi BeritaSehari ·

Ilustrasi tanaman bawah hutan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, 30 Mei 2019; bukan lokasi Kebun Raya Universitas Pahlawan. Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.
Ilustrasi tanaman bawah hutan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, 30 Mei 2019; bukan lokasi Kebun Raya Universitas Pahlawan. Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.
Foto: Andreas Christian / Wikimedia Commons — CC BY-SA 4.0 — https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=90627061

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (UPTT) merintis pemanfaatan kebun raya dan kawasan preservasi kampus sebagai penghubung habitat di Sumatra. Gagasan itu dibahas dalam International Symposium 2026 bertema “Bridging Fragmentation” yang berlangsung pada 8–9 Oktober 2026 di Pekanbaru dan Kebun Raya Universitas Pahlawan, Bangkinang, Riau.

Pendekatan tersebut menempatkan kebun raya bukan sekadar ruang hijau, melainkan sebagai titik pijakan ekologis di antara fragmen hutan. Selain fungsi konservasi, kawasan kampus diarahkan menjadi laboratorium hidup untuk penelitian, pendidikan, pengelolaan koleksi tumbuhan, dan pembelajaran masyarakat.

Kebun Raya Universitas Pahlawan direncanakan memiliki dua zona. Menurut keterangan rektor yang dikutip BRIN, Zona A seluas sekitar 30 hektare dibuka pada 9 Oktober 2026, sedangkan Zona B dirancang sekitar 120 hektare dan sekitar seperempat lahannya telah diakuisisi.

Peneliti konservasi BRIN Hendra Gunawan menilai keterputusan habitat menjadi ancaman bagi spesies endemik Sumatra, termasuk orangutan, harimau, dan gajah Sumatra. Dalam kerangka yang dibahas, kebun raya dan areal preservasi kampus diharapkan membantu menjaga konektivitas ekologis serta mendukung pemulihan ekosistem; keberhasilannya tetap memerlukan pengelolaan ilmiah dan hubungan nyata dengan lanskap di sekitarnya.

Simposium menghadirkan lembaga pemerintah, UNESCO Jakarta, dan ahli kebun raya dari Australia, Belanda, China, Malaysia, Brunei Darussalam, serta jaringan konservasi kebun raya internasional. Pokok bahasannya mencakup konservasi di dalam dan di luar habitat, restorasi ekosistem, herbarium digital, pengelolaan koleksi, dan pemanfaatan sistem informasi geografis.

Forum tersebut menghasilkan Deklarasi Riau yang memuat komitmen lintas sektor mengenai aksi iklim, perlindungan biodiversitas, dan konektivitas ekosistem. Peserta juga menyepakati pembentukan Sumatera Campus Conservation Consortium sebagai jejaring komunikasi antaruniversitas untuk mengembangkan inisiatif konservasi berbasis kampus.

Sumber: Badan Riset dan Inovasi Nasional, “BRIN dan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Inisiasi Koridor Biodiversitas TRHS melalui Simposium Internasional ‘Bridging Fragmentation’”, 9 Oktober 2026, https://www.brin.go.id/news/130779/brin-dan-universitas-pahlawan-tuanku-tambusai-inisiasi-koridor-biodiversitas-trhs-melalui-simposium-internasional-bridging-fragmentation ; halaman foto Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Ferns_and_undergrowth_of_the_Sumatran_rainforest.jpg

Catatan editorial: Artikel ini merupakan ringkasan orisinal dari rilis primer BRIN; redaksi tidak melakukan wawancara dan tidak menyatakan bahwa koridor ekologis telah berfungsi sebelum ada evaluasi lapangan. Foto merupakan ilustrasi tanaman bawah hutan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, pada 30 Mei 2019—bukan lokasi Kebun Raya Universitas Pahlawan—karya Andreas Christian, berlisensi CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.

Baca juga