Berita Sehari
Teknologi

Fotobioreaktor Mikroalga BRIN Dirancang Menangkap Karbon di Ruang Perkotaan

Redaksi Berita Sehari ·

Platform eksperimen mikroalga PTEM, 18 Mei 2011; bukan Olimpus Apollo 1.0 milik proyek BRIN. Gambar diperkecil dan dikonversi ke JPEG tanpa mengubah isi.
Platform eksperimen mikroalga PTEM, 18 Mei 2011; bukan Olimpus Apollo 1.0 milik proyek BRIN. Gambar diperkecil dan dikonversi ke JPEG tanpa mengubah isi.
Foto: AlgaEnergy / Wikimedia Commons — CC BY-SA 4.0 — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Technological_Platform_for_Experimentation_with_Microalgae_(PTEM).jpg

Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama PT Alam Semesta Integra memperkenalkan proyek percontohan penangkapan karbon berbasis fotobioreaktor mikroalga pada 8 Oktober 2026. Perangkat bernama Olimpus Apollo 1.0 direncanakan dipasang di kawasan BRIN Gatot Subroto, Jakarta, sebagai uji penerapan di lingkungan perkotaan.

Dasar teknologinya dikembangkan Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN sejak 2021 melalui prototipe FCB2022. Sistem memanfaatkan mikroalga Spirulina platensis untuk berfotosintesis, menyerap karbon dioksida, membentuk biomassa, dan menghasilkan oksigen dalam ruang reaktor yang kondisi pertumbuhannya dapat dipantau.

Perangkat dirancang modular dengan panjang sekitar empat meter, lebar satu meter, dan tinggi tiga meter. Kebutuhan ruang atap disebut sekitar 2,5 meter persegi. Udara ditarik dari empat sudut bagian bawah menuju fotobioreaktor, sedangkan pasokan energi memadukan panel surya dan listrik PLN.

Pemantauan memakai jaringan Internet of Things yang dikembangkan bersama Telkomsel. Empat belas sensor mengukur gas dan kualitas air setiap lima detik, lalu mengirim data ke platform dan dasbor. Parameter pertumbuhan mikroalga seperti intensitas cahaya, pH, dan suhu juga menjadi bagian dari pengawasan sistem.

Pihak ketiga TUV SÜD Indonesia memverifikasi kinerja perangkat dengan acuan ISO 14064-2 pada 28 Juni 2026. Klaim kesetaraan serapan dengan 110 pohon mahoni dewasa berasal dari hasil verifikasi yang dilaporkan pengembang; angka itu tidak berarti alat menggantikan fungsi ekologis pepohonan seperti peneduhan, habitat, dan pengelolaan air.

Proyek percontohan masih perlu dinilai lewat data operasi jangka panjang, kebutuhan energi, pemeliharaan, pengelolaan biomassa, serta kinerja pada kualitas udara yang berbeda. Artikel ini tidak menyebut teknologi tersebut sebagai solusi tunggal perubahan iklim dan tidak mengubah target penerapan menjadi bukti penggunaan luas.

Sumber: Badan Riset dan Inovasi Nasional, “BRIN Gandeng Industri Hilirisasi Teknologi Penangkap Karbon Berbasis Mikroalga”, 9 Oktober 2026, https://www.brin.go.id/news/130778/brin-gandeng-industri-hilirisasi-teknologi-penangkap-karbon-berbasis-mikroalga-1 ; halaman foto Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Technological_Platform_for_Experimentation_with_Microalgae_(PTEM).jpg

Catatan editorial: Artikel ini merupakan ringkasan teknologi dari publikasi resmi BRIN; redaksi tidak menguji perangkat dan tidak terlibat dalam klaim verifikasinya. Foto memperlihatkan platform eksperimen mikroalga PTEM pada 18 Mei 2011—bukan Olimpus Apollo 1.0 milik proyek BRIN—karya AlgaEnergy, berlisensi CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). Gambar diperkecil dan dikonversi ke JPEG tanpa mengubah isi.

Baca juga