Berita Sehari
Sains

Jarak Saja Tidak Cukup untuk Menilai Ancaman Asteroid

Redaksi BeritaSehari ·

Asteroid Bennu direkam OSIRIS-REx, 2 Desember 2018; bukan objek yang diumumkan sedang mengancam Bumi. Gambar dipotong proporsional dan dikonversi ke JPEG tanpa mengubah objek utama.
Asteroid Bennu direkam OSIRIS-REx, 2 Desember 2018; bukan objek yang diumumkan sedang mengancam Bumi. Gambar dipotong proporsional dan dikonversi ke JPEG tanpa mengubah objek utama.
Foto: NASA/Goddard/University of Arizona / Wikimedia Commons — domain publik — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:BennuAsteroid.jpg

Sebuah asteroid yang melintas dekat Bumi belum tentu berbahaya. Dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung Budi Dermawan menjelaskan bahwa penilaian risiko juga memerlukan ukuran, karakteristik fisik, kecepatan, dan dinamika orbit. Penjelasan itu disampaikan dalam hari ketiga kegiatan daring “100 Jam Astronomi untuk Semua” yang diselenggarakan Pusat Riset Antariksa BRIN pada 3 Oktober 2026.

Salah satu ukuran orbit yang digunakan astronom adalah minimum orbit intersection distance atau MOID, jarak minimum antara orbit asteroid dan orbit Bumi. Nilai MOID kecil menandakan lintasan orbit dapat berdekatan, tetapi tidak otomatis berarti asteroid akan bertumbukan dengan Bumi pada saat yang sama.

Ukuran benda sangat memengaruhi konsekuensi. Dalam contoh Budi, benda sekitar satu meter dan benda sekitar 100 meter tidak membawa tingkat bahaya yang sama meskipun jarak persilangannya serupa. Kecepatan dan sifat fisik turut menentukan energi yang dapat dilepaskan jika terjadi tumbukan.

Karena orbit berubah akibat berbagai gangguan gravitasi, pemantauan perlu mengumpulkan posisi berulang dan memperbaiki perhitungan. Data yang lebih lengkap membantu astronom menilai probabilitas tumbukan serta ketidakpastiannya, sehingga istilah “melintas dekat” tidak dibaca sebagai kepastian bahaya.

Mitigasi tidak selalu berarti menghancurkan asteroid. Konsep pembelokan orbit berupaya memberi perubahan kecil pada kecepatan atau lintasan jauh sebelum kemungkinan pertemuan dengan Bumi. Metode yang dibahas mencakup slow push, gravity tractor, dan asteroid tugboat; kelayakannya bergantung pada waktu peringatan dan karakter benda.

Periset BRIN Rhorom Priyatikanto menekankan pentingnya edukasi kebencanaan antariksa agar publik memahami cara ancaman dideteksi dan dihitung. Kegiatan ini bersifat penjelasan ilmiah untuk masyarakat, bukan pengumuman bahwa ada asteroid tertentu yang sedang menuju Bumi.

Sumber: Badan Riset dan Inovasi Nasional, “BRIN Ajak Publik Kenali Ancaman Asteroid dan Cara Mengantisipasinya”, Oktober 2026, https://www.brin.go.id/news/130750/brin-ajak-publik-kenali-ancaman-asteroid-dan-cara-mengantisipasinya ; halaman foto Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:BennuAsteroid.jpg

Catatan editorial: Artikel ini merupakan ringkasan orisinal dari penjelasan ilmiah yang dipublikasikan BRIN; redaksi tidak mengikuti kegiatan daring dan tidak menyatakan adanya ancaman asteroid aktual. Foto memperlihatkan asteroid Bennu yang direkam wahana OSIRIS-REx pada 2 Desember 2018—bukan objek yang sedang dibahas sebagai ancaman—kredit NASA/Goddard/University of Arizona, berstatus domain publik di Wikimedia Commons. Gambar dipotong proporsional dan dikonversi ke JPEG tanpa mengubah objek utama.

Baca juga