Berita Sehari
Sains

Model BRIN Membaca Risiko Badai Matahari bagi Infrastruktur Teknologi

Redaksi Berita Sehari ·

Visualisasi NASA tentang suar Matahari kelas X2.5 pada 16 Februari 2024; bukan dokumentasi riset BRIN 2026. Gambar diperkecil dan dikonversi ke JPEG tanpa mengubah isi.
Visualisasi NASA tentang suar Matahari kelas X2.5 pada 16 Februari 2024; bukan dokumentasi riset BRIN 2026. Gambar diperkecil dan dikonversi ke JPEG tanpa mengubah isi.
Foto: NASA Scientific Visualization Studio / A. J. Christensen dan Scott Wiessinger / Wikimedia Commons — Public domain — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:February_16,_2024_X2_5_Solar_Flare_(SVS14531_-_Feb_16_Flare_Video_multi_still).jpg

Badan Riset dan Inovasi Nasional mengembangkan model untuk memperkirakan aktivitas Matahari yang dapat memicu gangguan cuaca antariksa. Riset ini penting karena badai Matahari dapat memengaruhi jaringan listrik, komunikasi radio, dan navigasi satelit, meskipun dampaknya berbeda menurut kekuatan peristiwa dan kondisi ruang dekat Bumi.

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN Clara Yono Yatini menjelaskan bahwa pemantauan mencakup perkembangan daerah aktif di Matahari, jumlah bintik Matahari, dan kelas magnetnya. Rangkaian pengamatan itu dipakai untuk memperkirakan kemungkinan munculnya ledakan Matahari.

Pengamatan tidak berhenti di Matahari. Kondisi ionosfer dan medan magnet Bumi juga dipantau untuk menilai seberapa besar pengaruh aktivitas tersebut terhadap Indonesia. Langkah ini menghubungkan gejala di Matahari dengan lingkungan antariksa yang langsung berdekatan dengan sistem komunikasi dan navigasi.

Dalam kegiatan edukasi publik “100 Jam Astronomi untuk Semua” pada 1 Oktober 2026, dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung Dhani Herdiwijaya menerangkan bahwa pelepasan energi dan materi dari Matahari dapat berdampak pada infrastruktur. Ia juga menekankan peran magnetosfer dan atmosfer sebagai perlindungan alami Bumi terhadap radiasi berbahaya.

Penjelasan ilmiah tersebut penting ketika istilah “kiamat internet” beredar tanpa konteks. Risiko gangguan teknologi perlu dipantau, tetapi tidak sama dengan kepastian bahwa seluruh jaringan akan berhenti atau bahwa kehidupan di Bumi otomatis berada dalam bahaya.

Model prediksi tetap bergantung pada data observasi dan pengujian berulang. Publikasi BRIN tidak memuat angka ketepatan model atau tanggal operasional layanan peringatan baru, sehingga artikel ini tidak mengklaim bahwa semua badai Matahari sudah dapat diprediksi secara pasti.

Sumber: Badan Riset dan Inovasi Nasional, “Badai Matahari Bisa Ganggu Teknologi, BRIN Kembangkan Model Prediksi”, diperbarui 9 Oktober 2026, https://www.brin.go.id/news/130712/badai-matahari-bisa-ganggu-teknologi-brin-kembangkan-model-prediksi ; halaman foto Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:February_16,_2024_X2_5_Solar_Flare_(SVS14531_-_Feb_16_Flare_Video_multi_still).jpg

Catatan editorial: Artikel ini merupakan ringkasan sains dari publikasi resmi BRIN; redaksi tidak menjalankan model prediksi dan tidak mengamati peristiwa Matahari secara mandiri. Foto merupakan visualisasi NASA tentang suar Matahari kelas X2.5 pada 16 Februari 2024—bukan dokumentasi riset BRIN 2026—karya NASA Scientific Visualization Studio/A. J. Christensen dan Scott Wiessinger, berstatus domain publik. Gambar diperkecil dan dikonversi ke JPEG tanpa mengubah isi.

Baca juga