Berita Sehari
Sains

BRIN Teliti Jejak Hujan dalam Derau Akustik Bawah Air Selat Sunda

Redaksi BeritaSehari ·

Peneliti memegang hidrofon di Anacapa Island, 15 September 2017; bukan alat atau lokasi riset Selat Sunda. Gambar dikonversi ke JPEG tanpa mengubah isi.
Peneliti memegang hidrofon di Anacapa Island, 15 September 2017; bukan alat atau lokasi riset Selat Sunda. Gambar dikonversi ke JPEG tanpa mengubah isi.
Foto: Lindsey Peavey/NOAA, National Marine Sanctuaries / Wikimedia Commons — domain publik — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Michelle_Modest_Holding_Underwater_Hydrophone_at_Anacapa_Island_(36688110533).jpg

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji hubungan curah hujan dengan derau akustik bawah air di Selat Sunda. Penjelasan riset itu dipaparkan Rahadian, Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Laut Dalam BRIN, dalam Deep-Sea Science Forum Toward Deep Sea Mission 2045 pada Kamis, 8 Oktober 2026, lalu diterbitkan BRIN pada 9 Oktober.

Derau bawah air tidak berasal dari satu sumber. BRIN membaginya menjadi sumber alami seperti angin, gelombang, hujan, gempa, dan rekahan; sumber biologis dari organisme laut; serta sumber antropogenik, termasuk lalu lintas kapal dan kegiatan pelabuhan. Campuran itu berubah menurut frekuensi, waktu, lokasi, dan kondisi lingkungan.

Untuk merekam suara, tim menggunakan hidrofon yang dipasang pada sistem buoy atau pelampung instrumen di perairan Selat Sunda. Data rekaman dipakai untuk membaca karakter lingkungan akustik di titik pengamatan dan melihat perubahan sinyal sebelum diterima sistem penerima.

Hujan menghasilkan suara ketika tetes air menghantam permukaan laut. Peneliti membandingkan data akustik dengan informasi curah hujan dari satelit penginderaan jauh dan radar cuaca. Satelit memberi cakupan wilayah luas, sedangkan radar menyediakan rincian spasial dan temporal yang lebih tinggi di sekitar lokasi buoy.

Citra radar diolah menjadi data digital curah hujan, lalu disandingkan dengan perubahan derau yang direkam hidrofon. Integrasi data akustik dan meteorologi itu berpotensi membantu membangun model empiris serta memperbaiki pemahaman tentang komunikasi, navigasi, deteksi, pemetaan dasar laut, dan pemantauan lingkungan.

Rilis BRIN belum memuat periode pengamatan, jumlah rekaman, rentang frekuensi, besaran hubungan statistik, atau publikasi telaah sejawat dari kajian ini. Karena itu, laporan ini menjelaskan metode dan arah riset, bukan menyatakan bahwa derau dapat dipakai sebagai alat prakiraan hujan yang telah tervalidasi.

Sumber: Badan Riset dan Inovasi Nasional, “BRIN Kaji Pengaruh Hujan terhadap Noise Akustik Bawah Air di Selat Sunda”, 9 Oktober 2026, https://www.brin.go.id/news/130819/brin-kaji-pengaruh-hujan-terhadap-noise-akustik-bawah-air-di-selat-sunda ; halaman foto Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Michelle_Modest_Holding_Underwater_Hydrophone_at_Anacapa_Island_(36688110533).jpg

Catatan editorial: Artikel ini merupakan ringkasan orisinal dari rilis primer BRIN; redaksi tidak mengikuti forum atau penelitian lapangan. Foto NOAA/Lindsey Peavey menampilkan peneliti memegang hidrofon di Anacapa Island pada 15 September 2017—bukan alat atau lokasi riset Selat Sunda—dan berstatus domain publik di Wikimedia Commons. Gambar dikonversi ke JPEG tanpa mengubah isi.

Baca juga