Berita Sehari
Teknologi

BRIN Kembangkan Visi Komputer untuk Membantu Operasi Hot Cell dari Jarak Jauh

Redaksi BeritaSehari ·

Manipulator hot cell di Idaho National Laboratory, 22 Januari 2008; bukan fasilitas atau riset BRIN. Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.
Manipulator hot cell di Idaho National Laboratory, 22 Januari 2008; bukan fasilitas atau riset BRIN. Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.
Foto: Idaho National Laboratory / Wikimedia Commons — CC BY 2.0 — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Manipulator_Arm.jpg

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan instrumentasi berbasis kecerdasan artifisial dan robotika untuk membantu operasi fasilitas nuklir dari jarak jauh. Riset yang dipaparkan peneliti Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN, Helmi Fauzi Rahmatullah, itu diarahkan pada pekerjaan pemeriksaan pascairadiasi di hot cell; BRIN memublikasikan keterangannya pada 9 Oktober 2026.

Hot cell merupakan ruang berpelindung untuk menangani material radioaktif. Dalam rancangan yang dijelaskan BRIN, manipulator bergerak di dalam ruang tersebut, sedangkan kamera menjadi sumber informasi visual bagi sistem kendali. Pendekatan ini ditujukan untuk mengurangi kebutuhan personel berada dekat sumber radiasi, bukan untuk menghilangkan prosedur keselamatan yang berlaku.

Salah satu bagian riset ialah visual servoing, yaitu pemanfaatan umpan balik kamera untuk membantu mengarahkan manipulator. BRIN menyebut model deteksi objek YOLO digunakan untuk mengenali komponen seperti pelat dan batang bahan bakar. Informasi posisi dari gambar kemudian dapat membantu operator menjalankan pekerjaan pemeriksaan secara lebih presisi dari lokasi yang lebih aman.

Tim juga mengekstrak ciri tekstur citra dengan metode gray-level co-occurrence matrix atau GLCM, lalu menggunakan LightGBM untuk membuat prediksi berbasis data tersebut. Kamera tetap mempunyai keterbatasan: paparan radiasi dapat menurunkan mutu gambar dan kinerja perangkat. Karena itu, pemantauan kualitas citra secara berkelanjutan menjadi bagian penting dari rancangan sistem.

BRIN menegaskan keputusan keselamatan tetap harus melibatkan manusia. AI diposisikan sebagai alat bantu yang menyajikan deteksi atau prediksi, sementara operator memegang kendali dan menilai hasilnya. Kehati-hatian itu juga diperlukan ketika data operasi berubah, sebab pergeseran kondisi dapat membuat pola yang dipelajari model tidak lagi mewakili situasi terbaru.

Makalah penelitian ini dipresentasikan dalam IAEA–NEA Joint Workshop on Safety Considerations in the Use of Artificial Intelligence and Robotics in Nuclear Fuel Cycle Facilities di La Hague, Prancis, pada 28–30 September 2026. Paparan tersebut menunjukkan arah pengembangan, bukan bukti bahwa sistem telah diterapkan penuh di seluruh fasilitas. Keandalan perangkat, mutu data, pengujian pada kondisi berubah, dan pengawasan manusia masih menjadi syarat sebelum pemanfaatannya dapat diperluas.

Sumber: Badan Riset dan Inovasi Nasional, “BRIN Kembangkan AI dan Robotika untuk Tingkatkan Keselamatan Operasi Fasilitas Nuklir”, 9 Oktober 2026, https://www.brin.go.id/news/130787/brin-kembangkan-ai-dan-robotika-untuk-tingkatkan-keselamatan-operasi-fasilitas-nuklir ; halaman foto Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Manipulator_Arm.jpg

Catatan editorial: Artikel ini merupakan ringkasan orisinal dari rilis primer BRIN; redaksi tidak menghadiri lokakarya, tidak melakukan wawancara, dan tidak menyatakan teknologi telah diterapkan secara luas. Foto menampilkan manipulator hot cell di Idaho National Laboratory pada 22 Januari 2008—bukan fasilitas atau riset BRIN—karya Idaho National Laboratory, berlisensi CC BY 2.0 (https://creativecommons.org/licenses/by/2.0/). Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.

Baca juga