BRIN Gunakan Sensor VIIRS untuk Mempercepat Deteksi Dini Karhutla
Redaksi BeritaSehari ·

Foto: NASA Earth Observatory/Lauren Dauphin — domain publik — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Peatland_Fires_Darken_Skies_in_Indonesia_(1283342_-_detect_amo_20260901).jpg
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem pemantauan titik panas berbasis satelit yang dapat mengolah data menjadi informasi hotspot dalam waktu sekitar 30 menit. Sistem ini ditujukan untuk mempercepat deteksi awal kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah Indonesia yang luas dan sulit diperiksa langsung dari darat.
BRIN menjelaskan bahwa sumber data utama saat ini berasal dari sensor Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS pada satelit Suomi NPP dan NOAA-20. Sensor tersebut menggantikan MODIS pada satelit Terra dan Aqua sebagai sumber utama setelah pemakaian lebih dari dua dekade dan penurunan ketelitian deteksi titik panas.
Cara kerjanya memanfaatkan perbedaan radiasi termal yang dipancarkan permukaan Bumi. Kebakaran dapat menghasilkan suhu sekitar 1.000 Kelvin sehingga anomali panasnya bisa dideteksi pada panjang gelombang sekitar empat mikrometer. Namun, hotspot tetap merupakan indikasi awal yang perlu diverifikasi di lapangan, bukan bukti otomatis bahwa suatu lokasi sedang terbakar.
Data yang diterima stasiun bumi dikirim ke Cloud BRIN untuk diolah dan disaring. Tahap penyaringan diperlukan karena aktivitas industri, pertambangan batu bara, dan kawah gunung berapi juga dapat menghasilkan sinyal panas yang menyerupai kebakaran. Setelah itu, data dikelompokkan dan ditampilkan melalui dasbor dengan indikator tingkat kepercayaan serta radius klaster.
Informasi tersebut telah dimanfaatkan berbagai instansi, antara lain BNPB, BPBD, kepolisian di Sumatera dan Kalimantan, Polri, serta BMKG sebagai wali data. Tingkat kepercayaan dan ukuran klaster membantu petugas menentukan titik yang perlu diperiksa lebih dahulu, sementara keputusan penanganan tetap bergantung pada pemeriksaan lapangan dan informasi cuaca.
BRIN masih menyiapkan pemanfaatan data NOAA-21, memperkuat stasiun bumi cadangan di Rancabungur untuk menopang stasiun utama di Parepare, serta menyempurnakan penyaringan berdasarkan rekam historis. Pengembangan itu penting untuk menekan kesalahan deteksi dan memperpendek jarak waktu antara munculnya indikasi panas dan respons petugas.
Sumber: Badan Riset dan Inovasi Nasional, “Sistem Hotspot BRIN Deteksi Dini Karhutla, Olah Data Satelit dalam 30 Menit”, 5 September 2026, https://brin.go.id/news/130285/sistem-hotspot-brin-deteksi-dini-karhutla-olah-data-satelit-dalam-30-menit ; halaman foto Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Peatland_Fires_Darken_Skies_in_Indonesia_(1283342_-_detect_amo_20260901).jpg
Catatan editorial: Artikel ini merupakan ringkasan orisinal dari keterangan primer BRIN; redaksi tidak melakukan wawancara dan tidak menganggap setiap hotspot sebagai kebakaran terkonfirmasi. Citra satelit dibuat NASA Earth Observatory/Lauren Dauphin pada 1 September 2026 dan berstatus domain publik. Gambar diperkecil serta disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi visual.
Sains
Sains
Teknologi
Sains
Teknologi
Teknologi