BRIN Soroti Pentingnya Pemantauan Sampah Antariksa di Orbit
Redaksi BeritaSehari ·

Foto: NASA SVS—USRA/Kel Elkins, Jessica Ende; OMITRON/Charles Fisher; Christina Mitchell — domain publik — https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=167874580
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti sampah antariksa sebagai ancaman nyata bagi keselamatan misi di orbit. Yang termasuk dalam kelompok ini bukan hanya satelit yang sudah tidak aktif, tetapi juga badan roket dan pecahan yang muncul akibat ledakan atau tumbukan.
Pemantauan diperlukan karena setiap objek terus bergerak dengan lintasan tertentu. BRIN menjelaskan bahwa radar dan teleskop optik dapat dipakai untuk mengamati objek, memperbarui perkiraan orbit, menilai kemungkinan pertemuan dekat, lalu menyediakan dasar bagi tindakan mitigasi ketika risikonya dinilai cukup besar.
Besarnya persoalan terlihat dalam statistik terbaru Kantor Sampah Antariksa Badan Antariksa Eropa (ESA), yang diperbarui pada 31 Juli 2026. Jaringan pengawasan secara rutin melacak sekitar 47.140 objek, sedangkan lebih dari 660 peristiwa pecah, ledakan, tumbukan, atau anomali yang menghasilkan fragmentasi telah diperkirakan terjadi.
ESA mencatat sekitar 27.500 satelit telah ditempatkan ke orbit sejak awal era antariksa. Sekitar 18.850 di antaranya masih berada di ruang angkasa dan kira-kira 15.900 masih berfungsi. Total massa seluruh objek antariksa di orbit Bumi diperkirakan melampaui 17.000 ton.
Katalog pelacakan belum menggambarkan seluruh populasi. Berdasarkan model MASTER-8 dengan populasi acuan Februari 2026, ESA memperkirakan terdapat 68.450 objek berukuran lebih dari 10 sentimeter, 1,5 juta keping sampah berukuran lebih dari satu hingga 10 sentimeter, dan 230 juta keping berukuran lebih dari satu milimeter hingga satu sentimeter.
Perbedaan antara objek yang terlacak dan populasi yang diperkirakan menjelaskan mengapa pengamatan berulang tetap penting. Data radar dan optik tidak menghilangkan sampah yang sudah ada, tetapi membantu operator memahami lingkungan orbit, memperbarui posisi objek, dan menilai apakah sebuah misi perlu menyiapkan langkah penghindaran.
Sumber: Badan Riset dan Inovasi Nasional, “Sampah Antariksa di Orbit: Ancaman Nyata bagi Misi Antariksa, Mengapa Perlu Dipantau?”, diakses 9 Oktober 2026, https://brin.go.id/news/130716/sampah-antariksa-di-orbit-ancaman-nyata-bagi-misi-antariksa-mengapa-perlu-dipantau ; ESA Space Debris User Portal, statistik lingkungan antariksa diperbarui 31 Juli 2026, https://sdup.esoc.esa.int/discosweb/statistics/ ; halaman gambar Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Tracking_Satellites_and_Space_Debris_in_Earth_Orbit_(Feb_2024)_(SVS5258_-_cos_ir_deb_2024_03750_print).jpg
Catatan editorial: Artikel ini merupakan ringkasan orisinal dari penjelasan primer BRIN dan statistik resmi ESA; redaksi tidak melakukan wawancara. Visualisasi memperlihatkan sisa tumbukan Cosmos 2251 dan Iridium 33 yang masih berada di orbit pada Februari 2024. Karya NASA Scientific Visualization Studio berstatus domain publik; gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi visual.
Sains
Sains
Teknologi
Sains
Teknologi
Teknologi