Uji Awal Singkong-APP BRIN Hemat Cairan pada Simulasi Kebakaran Gambut
Redaksi BeritaSehari ·

Foto: Muhammad Pasya Ramadhan / Wikimedia Commons — CC BY-SA 4.0 — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Peatland_Forest_fires.jpg
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Singkong-APP, formulasi retardan api berbahan pati singkong dan amonium polifosfat (APP). Riset itu dipaparkan dalam Media Lounge Discussion di Jakarta pada 6 Oktober 2026 dan dimuat BRIN pada 7 Oktober 2026. Hasil yang tersedia masih berasal dari uji awal dengan media simulasi, sehingga belum membuktikan kinerja pada kebakaran gambut di lapangan.
Kebakaran gambut berbeda dari api permukaan biasa karena bara dan panas dapat merambat di bawah tanah. Ketika memperoleh celah pasokan oksigen, pembakaran dapat kembali muncul di permukaan. Formulasi Singkong-APP dirancang untuk membantu cairan masuk ke bagian bawah material sekaligus menahan perpindahan panas dan akses oksigen.
Komponen singkong yang dipakai adalah pati, bukan umbi utuh. Pati dipadukan dengan APP serta alkyl polyglucoside (APG) untuk menurunkan kekentalan agar cairan dapat disemprotkan dan meresap. Menurut penjelasan BRIN, APP yang terkena panas menghasilkan asam fosfat dan amonia; interaksi asam fosfat dengan pati kemudian membentuk lapisan arang atau char yang menjadi penghalang termal.
Pengujian dilakukan pada media berisi daun kering, ranting, sekam padi, dan serbuk gergaji yang dirancang menyerupai bahan terbakar pada kebakaran gambut. Tahapannya mencakup pembentukan bara, penyemprotan permukaan, penetrasi ke bagian bawah, pemadaman pembakaran sisa, dan pemantauan setelah aplikasi. Air digunakan sebagai pembanding.
Dalam uji tersebut, Singkong-APP memakai 65 liter cairan dan waktu aplikasi 15 menit, sedangkan air memerlukan 120 liter dan 23 menit 35 detik. Setelah tahap penetrasi, suhu media yang diberi Singkong-APP tercatat 46 derajat Celsius, dibandingkan 117,5 derajat Celsius pada media dengan air. Pada pengamatan 60 menit, tidak terlihat titik api pada perlakuan Singkong-APP, sementara kontrol air masih memiliki enam titik api.
Angka itu belum dapat langsung diterapkan sebagai ukuran kebutuhan pemadaman lahan nyata. BRIN menyatakan pengembangan masih memerlukan produksi skala percontohan dan pengujian pada area yang lebih besar. Penyediaan APP juga menjadi kendala karena material tersebut belum tersedia di dalam negeri; proses sintesisnya melibatkan asam fosfat dan urea serta menghasilkan amonia beracun, sehingga reaktor dan keselamatan peneliti harus menjadi bagian dari pengembangan.
Sumber: Badan Riset dan Inovasi Nasional, “BRIN Kembangkan Singkong-APP untuk Pengendalian Kebakaran Gambut”, 7 Oktober 2026, https://www.brin.go.id/news/130749/brin-kembangkan-singkong-app-untuk-pengendalian-kebakaran-gambut ; halaman foto Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Peatland_Forest_fires.jpg
Catatan editorial: Artikel ini merupakan ringkasan orisinal dari rilis primer BRIN; redaksi tidak menghadiri pengujian, tidak melakukan wawancara, dan tidak menyatakan formulasi telah siap digunakan di lapangan. Foto mendokumentasikan kondisi kebakaran hutan gambut di Borneo, Indonesia, pada 23 September 2019—bukan uji Singkong-APP—karya Muhammad Pasya Ramadhan, berlisensi CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.
Sains
Sains
Teknologi
Sains
Teknologi
Teknologi