Berita Sehari
Sains

BRIN Kaji Enzim Lakase Jamur Indonesia untuk Mengolah Senyawa Pencemar

Redaksi BeritaSehari ·

Trametes hirsuta yang didokumentasikan pada 10 Februari 2008; bukan galur EDN 082 atau eksperimen BRIN. Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.
Trametes hirsuta yang didokumentasikan pada 10 Februari 2008; bukan galur EDN 082 atau eksperimen BRIN. Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.
Foto: Aconcagua / Wikimedia Commons — CC BY-SA 3.0 — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Trametes_hirsuta_-_Baumpilz_080210_1.jpg

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji enzim lakase dari biodiversitas Indonesia untuk bioremediasi senyawa pencemar, termasuk limbah industri tekstil. Rangkaian penelitian itu dipaparkan Profesor Riset Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Dede Heri Yuli Yanto, dalam orasi ilmiah di Jakarta pada 8 Oktober 2026 dan dimuat BRIN pada 9 Oktober 2026.

Salah satu hasil risetnya ialah penemuan gen lakase Thlacc1 dari jamur pelapuk kayu Trametes hirsuta EDN 082 asal Indonesia. Lakase dapat mengoksidasi berbagai senyawa sehingga dikaji sebagai biokatalis dalam proses pengolahan pencemar. Pendekatan biologis ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada metode konvensional yang berisiko menghasilkan limbah sekunder.

Untuk memperluas jenis senyawa yang dapat dirombak, penelitian mencakup pengembangan sistem lakase-mediator. Tim juga mengembangkan teknik imobilisasi agar enzim lebih stabil dan dapat digunakan kembali. Selain enzimnya, jamur penghasil lakase ditempatkan pada light expanded clay aggregate atau LECA; media tersebut disebut myco-LECA.

BRIN menyatakan myco-LECA telah diaplikasikan pada limbah batik di Pekalongan dan air limbah tekstil di Jabodetabek. Jalur degradasi pewarna tekstil dipelajari melalui pendekatan metabolomik dan pemodelan in silico untuk memahami perubahan senyawa selama proses berlangsung, termasuk karakteristik hasil degradasinya.

Cakupan kajian tidak berhenti pada pewarna tekstil. Lakase juga diteliti bersama enzim lain untuk membantu mendegradasi cemaran minyak serta antibiotik trimetoprim. Riset lain mengolah lakase dari Trametes hirsuta EDN 082 menjadi material carbon quantum dot untuk mendeteksi ciprofloxacin. Penyebutan aplikasi tersebut menunjukkan arah penelitian, bukan bukti bahwa seluruh produk telah tersedia secara komersial.

BRIN masih mencatat kesenjangan antara hasil laboratorium dan penggunaan industri. Tahap berikutnya mencakup peningkatan kesiapan teknologi, fasilitas scale-up dan pilot plant, pemenuhan standar mutu serta keamanan, regulasi, dan adopsi oleh industri. Karena itu, potensi bioremediasi dari lakase perlu dibaca bersama kebutuhan uji lanjutan dan validasi pada kondisi operasional yang lebih luas.

Sumber: Badan Riset dan Inovasi Nasional, “Enzim Lakase Berbasis Biodiversitas Indonesia Berpotensi untuk Bioremediasi”, 9 Oktober 2026, https://www.brin.go.id/news/130789/enzim-lakase-berbasis-biodiversitas-indonesia-berpotensi-untuk-bioremediasi ; halaman foto Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Trametes_hirsuta_-_Baumpilz_080210_1.jpg

Catatan editorial: Artikel ini merupakan ringkasan orisinal dari rilis primer BRIN; redaksi tidak menghadiri orasi, tidak melakukan wawancara, dan tidak menyatakan teknologi telah siap dipasarkan. Foto menampilkan Trametes hirsuta yang didokumentasikan pada 10 Februari 2008—bukan galur EDN 082 atau eksperimen BRIN—karya Aconcagua, berlisensi CC BY-SA 3.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/). Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.

Baca juga