Kenapa Tsunami Megathrust dari Selatan Jawa Bisa Sampai Jakarta Setinggi 1,8 Meter?

JAKARTA – Kabar “tsunami 1,8 meter bisa sampai Jakarta” kembali ramai dibagikan setelah CNBC Indonesia memuat ulang kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Minggu (8/11/2026). Ini bukan prediksi kapan gempa terjadi, melainkan skenario terburuk untuk keperluan mitigasi.
Kajian itu disampaikan peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Nuraini Rahma Hanifa. Skenarionya: gempa megathrust bermagnitudo 8,7 hingga 9,1 di zona subduksi selatan Jawa, termasuk segmen Selat Sunda, menurut Suara.com yang mengutip laman BRIN.
Megathrust adalah zona pertemuan dua lempeng, tempat Lempeng Indo-Australia menyusup ke bawah Lempeng Eurasia. Bidang pertemuan itu bisa terkunci dan menyimpan energi selama ratusan tahun. “Energi yang terkunci di zona subduksi selatan Jawa terus bertambah seiring waktu,” kata Rahma, dikutip CNBC Indonesia.

Lalu kenapa Jakarta, yang menghadap Laut Jawa, ikut terdampak? Gelombang tsunami dari selatan Jawa tidak berhenti di pantai selatan. Gelombang merambat ke pesisir Banten dan Lampung lewat Selat Sunda, lalu masuk ke Laut Jawa hingga pesisir utara Jakarta. Karena menempuh jarak jauh dan melewati selat, energinya melemah.
Itu sebabnya tinggi gelombangnya sangat berbeda. Dalam skenario BRIN, tsunami bisa mencapai 20 meter di pesisir selatan Jawa, 3 hingga 15 meter di Selat Sunda, dan sekitar 1 hingga 1,8 meter di pesisir utara Jakarta, menurut CNBC Indonesia.
Waktu tibanya pun berbeda. “2,5 jam tsunami tiba. Kalau Jawa bagian selatan 40 menit sudah sampai, Lebak itu 18 menit,” kata Rahma. Jeda 2,5 jam bagi Jakarta adalah waktu berharga untuk evakuasi jika peringatan dini berjalan baik.
BMKG punya angka berbeda. Pada Januari 2025, Kepala BMKG saat itu, Dwikorita Karnawati, menyebut Teluk Jakarta bisa terdampak sekitar 50 sentimeter dalam pemodelan lembaganya, seperti dikutip CNBC Indonesia. Perbedaan ini wajar karena tiap model memakai asumsi sumber gempa yang berbeda.
Menurut riset paleotsunami yang dikutip Suara.com, megathrust selatan Jawa diperkirakan berulang setiap 400 hingga 600 tahun, dengan kejadian besar terakhir diperkirakan pada 1699. Namun tidak ada ilmuwan yang bisa memastikan kapan gempa berikutnya terjadi.
Bagi warga Jakarta, ancaman yang lebih dekat justru guncangan gempa terhadap bangunan. Rahma menekankan pentingnya penguatan bangunan. “Retrofitting sangat penting, terutama untuk bangunan di kawasan padat penduduk,” ujarnya.
Yang bisa dilakukan sekarang: kenali jalur evakuasi di sekitar tempat tinggal, terutama bagi warga pesisir utara, dan pantau informasi resmi BMKG bila terjadi gempa kuat. BRIN juga menyebut wilayah pesisir di sebelah barat dan timur Jakarta belum dimodelkan secara rinci.
Catatan redaksi: disusun dari sumber yang disebutkan; foto arsip bukan dokumentasi peristiwa terbaru.
Sumber: CNBC Indonesia, Suara.com, CNBC Indonesia



