Berita Sehari
Sains

Feature Sains: Airglow Memperlihatkan Atmosfer yang Bersinar Tanpa Aurora

Redaksi Opinix ·

Pijar udara merah-kuning menyelimuti lengkung Bumi dalam foto dari Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 26 Oktober 2025. Tanggal sumber: Taken on 26 October 2025.
Pijar udara merah-kuning menyelimuti lengkung Bumi dalam foto dari Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 26 Oktober 2025. Tanggal sumber: Taken on 26 October 2025.
Foto: Foto: NASA Johnson Space Center. Halaman berkas: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:A_red-yellow_airglow_blankets_Earth_as_the_last_rays_of_an_orbital_sunset_illuminate_the_atmosphere_(iss073e0982783).jpg. Lisensi: Public domain (). Perubahan: orientasi disesuaikan, ukuran diperkecil, dan format dikonversi ke JPEG; substansi gambar tidak diubah.

Ini adalah feature sains, bukan laporan penampakan terbaru. Airglow atau pijar udara adalah cahaya redup dari atmosfer atas. NASA menjelaskan bahwa cahaya ini muncul ketika atom dan molekul yang menerima energi Matahari melepaskan kembali energi tersebut, sehingga lapisan tipis atmosfer dapat tampak berwarna dari orbit.

Airglow berbeda dari aurora. Aurora terutama berkaitan dengan partikel bermuatan yang diarahkan medan magnet menuju lintang tinggi, sedangkan airglow dapat hadir mengelilingi Bumi. Keduanya sama-sama bisa memperlihatkan warna hijau atau merah, sehingga posisi, bentuk, dan data pengamatan diperlukan untuk membedakannya.

Warna tidak dipilih secara acak. Gas, ketinggian, dan proses eksitasi memengaruhi panjang gelombang yang dipancarkan. Karena setiap lapisan dapat memberi sinyal berbeda, ilmuwan memakai airglow sebagai penanda untuk mempelajari suhu, komposisi, bentuk, dan gerak di atmosfer atas.

Gelombang dari atmosfer bawah juga dapat merambat ke atas dan membentuk pola terang-redup. Misi Atmospheric Waves Experiment milik NASA mengamati variasi inframerah airglow dari Stasiun Luar Angkasa Internasional untuk menelusuri gelombang gravitasi atmosfer dan kaitannya dengan cuaca antariksa.

Foto artikel ini diambil pada 26 Oktober 2025 dan memperlihatkan pita merah-kuning di lengkung Bumi setelah matahari terbenam orbital. Pemotretan dari orbit, waktu pencahayaan, serta pengolahan kamera membuat pijar yang sangat redup lebih mudah terlihat daripada dari permukaan.

Satu foto tidak cukup untuk menentukan komposisi atau keadaan ionosfer. Peneliti membandingkan banyak citra dengan waktu, lokasi, panjang gelombang, dan instrumen lain. Bagi pembaca, pelajaran utamanya sederhana: malam di atmosfer atas tidak sepenuhnya gelap, dan cahaya samar dapat membawa informasi fisika yang kaya.

Sumber: NASA Science, “Why NASA Watches Airglow, the Colors of the (Upper Atmospheric) Wind”, https://www.nasa.gov/solar-system/why-nasa-watches-airglow-the-colors-of-the-upper-atmospheric-wind/ ; NASA Science, “Aurora, Meet Airglow”, https://science.nasa.gov/earth/earth-observatory/aurora-meet-airglow-147122/ ; NASA Science, “AWE”, https://science.nasa.gov/mission/awe/ . Diakses 11 Oktober 2026.

Catatan editorial: Tulisan ini merupakan feature pengetahuan berdasarkan publikasi NASA. Foto mendokumentasikan 26 Oktober 2025 dan tidak disajikan sebagai kejadian baru pada tanggal penerbitan.

Baca juga