Berita Sehari
Sains

Thermokarst Terbentuk ketika Tanah Kaya Es Mencair dan Permukaannya Ambles

Redaksi Opinix ·

Lereng runtuh akibat pencairan permafrost di Sungai Noatak, Noatak National Preserve, Alaska. Dokumentasi Rory Nichols/NPS; tanggal pengambilan tidak dicantumkan pada halaman sumber. Bukan foto kejadian baru Oktober 2026.
Lereng runtuh akibat pencairan permafrost di Sungai Noatak, Noatak National Preserve, Alaska. Dokumentasi Rory Nichols/NPS; tanggal pengambilan tidak dicantumkan pada halaman sumber. Bukan foto kejadian baru Oktober 2026.
Foto: Rory Nichols / National Park Service (NPS) / Public domain — karya NPS; No claim to original U.S. Government works

Tulisan latar / evergreen nonaktual — bukan berita terbaru.

Permukaan tanah beku dapat berubah menjadi cekungan, alur, atau lereng yang runtuh ketika es di dalamnya mencair. Bentang seperti ini disebut thermokarst. Istilah tersebut menjelaskan perubahan bentuk lahan, bukan sekadar keberadaan air di atas tanah.

Bab pemantauan geologi karya T.E. Osterkamp dan M.T. Jorgenson mendefinisikan permafrost sebagai tanah atau batuan yang bertahan pada suhu nol derajat Celsius atau lebih rendah selama sedikitnya dua tahun berturut-turut. Lapisan permukaannya dapat membeku dan mencair setiap tahun, berbeda dari tanah beku di bawahnya.

Pada tanah yang kaya es, pencairan mengubah penopang beku menjadi air. Material di atasnya dapat turun atau kehilangan kestabilan. Karena kandungan es dan kondisi tanah tidak seragam, perubahan permukaan pun tidak selalu menghasilkan bentuk yang sama.

Uraian National Park Service tentang Alaska menyebut dua kemungkinan yang tampak berlawanan: kolam baru dapat terbentuk, tetapi danau juga dapat mengering. Perbedaannya berkaitan dengan perubahan jalur aliran air, bukan berarti semua kawasan yang mencair pasti menjadi semakin basah.

Perubahan itu dapat memengaruhi tumbuhan, habitat, serta aliran sedimen ke sungai dan danau. Foto dokumentasi NPS memperlihatkan lereng yang runtuh akibat pencairan permafrost di tepi Sungai Noatak, Alaska; foto tersebut bukan bukti kejadian baru pada Oktober 2026.

Untuk membaca perubahan dengan tepat, bentuk permukaan perlu dipertemukan dengan pengamatan suhu dan kondisi fisik tanah dari waktu ke waktu. Materi pemantauan juga mengingatkan bahwa tutupan salju, kelembapan, vegetasi, serta gangguan setempat ikut memengaruhi keadaan permafrost, selain suhu udara.

Sumber (diperiksa 18 Oktober 2026 WIB):

Osterkamp dan Jorgenson, Monitoring Permafrost, 2009, diterbitkan pada laman NPS

https://www.nps.gov/articles/permafrost-geomonitoring.htm

National Park Service, The Fate of Permafrost, uraian ilmiah dan dokumentasi Noatak

https://www.nps.gov/articles/aps-16-1-9.htm

Foto dokumentasi / ilustrasi: Lereng runtuh akibat pencairan permafrost di Sungai Noatak, Noatak National Preserve, Alaska. Dokumentasi Rory Nichols/NPS; tanggal pengambilan tidak dicantumkan pada halaman sumber. Bukan foto kejadian baru Oktober 2026.

Pembuat/kredit: Rory Nichols / National Park Service (NPS).

Halaman foto:

https://www.nps.gov/articles/aps-16-1-9.htm

Lisensi atau dasar izin: Public domain — karya NPS; No claim to original U.S. Government works.

https://www.nps.gov/aboutus/disclaimer.htm

Perubahan: Orientasi EXIF disesuaikan bila tersedia, ukuran diperkecil bila diperlukan, dan dikodekan ulang sebagai JPEG; tanpa pemotongan atau perubahan isi.

Catatan editorial: Kurasi transparan oleh Redaksi Opinix berdasarkan sumber yang disebutkan, bukan liputan atau wawancara langsung. Tidak ada kutipan baru yang direka. Artikel penjelasan proses berdasarkan pustaka, bukan penemuan baru atau laporan kondisi lapangan terkini. Proyeksi iklim lama dalam sumber tidak disajikan sebagai ramalan terbaru. Izin foto diverifikasi melalui kredit NPS dan kebijakan kepemilikannya; materi ilmiah pihak ketiga tidak dianggap otomatis public domain.

Baca juga